3 Hakikat Harta Kita

12 February 2026
01:10 WIB
111 views
Thumbnail 3 Hakikat Harta Kita

Gambar utama berita

Oleh: Adil Rahman

‎“Hartaku… Uangku…Punyaku...” ‎Ungkapan itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersembunyi rasa kepemilikan yang begitu kuat.

‎ ‎Sejak kecil, manusia diajarkan untuk memiliki: memiliki mainan, memiliki prestasi, memiliki jabatan, dan akhirnya memiliki harta. Semakin banyak yang dikumpulkan, semakin merasa aman. Semakin penuh yang disimpan, semakin merasa berhasil.

"Konten berita yang informatif dan terpercaya"

‎ ‎Namun Rasulullah menggugah kesadaran itu dengan kalimat yang sangat dalam maknanya. Beliau mengingatkan bahwa dari seluruh harta yang diklaim sebagai miliknya sebenarnya tidak banyak yang benar-benar menjadi ‎kepemilikannya dari dirinya.

‎ ‎يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ ‎

‎“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja?” (HR. Muslim no. 2958) ‎ ‎

"Konten berita yang informatif dan terpercaya"

Sering kali manusia bangga pada apa yang ada di rekeningnya, pada aset yang tertulis atas namanya, atau pada barang yang tersimpan rapi di rumahnya. Tetapi semua itu bisa hilang dalam sekejap: musibah, kebangkrutan, pencurian, atau bahkan kematian. Ketika ajal tiba, harta tidak ikut masuk ke liang lahat. Ia tetap tinggal di dunia, berpindah tangan, berganti pemilik.

Lalu, apa yang benar-benar menjadi milik kita? ‎Yang Dimakan, Dipakai, dan Diberikan. ‎ Hadits diatas menjelaskan tiga hal terkait kepemilikan harta kita: ‎Yang dimakan hingga habis, Ia memberi kekuatan sesaat, lalu hilang. ‎Yang dipakai hingga usang , Ia memberi kenyamanan sementara, lalu rusak.

‎ Yang disedekahkan, Inilah yang justru tidak hilang, karena tersimpan sebagai pahala.

"Konten berita yang informatif dan terpercaya"

‎Menariknya, dua yang pertama tetap akan lenyap secara fisik. Sedangkan yang ketiga, yang tampak “berkurang” di dunia, justru bertambah nilainya di sisi Allah. Logika dunia sering kali terbalik dengan logika akhirat. ‎ ‎ Hadits diatas bukan ajakan untuk meninggalkan usaha atau hidup dalam kemiskinan. Islam tidak melarang kekayaan. Namun Islam mengajarkan agar hati tidak diperbudak oleh harta. ‎Ketika seseorang menyadari bahwa kepemilikan hanyalah sementara, ia tidak akan terlalu terikat. Ia bekerja keras, tetapi tidak serakah. Ia memiliki, tetapi tidak diperbudak. Ia memberi, karena tahu itulah investasi yang tak pernah rugi. ‎

‎Banyak orang mengira ujian hanya datang dalam bentuk kekurangan. Padahal kelimpahan pun adalah ujian. Semakin banyak harta, semakin besar tanggung jawabnya. Apakah ia akan menumpuknya demi kebanggaan? Atau mengalirkannya demi keberkahan?

‎ ‎Pada akhirnya, manusia akan meninggalkan semuanya. Rumah akan ditempati orang lain. Kendaraan akan digunakan orang lain. Tabungan akan diwariskan. Tetapi sedekah, kebaikan, dan amal yang lahir dari hartanya akan tetap menyertainya.

"Konten berita yang informatif dan terpercaya"

‎Hadits ini mengajarkan bahwa harta terbaik bukan yang paling banyak nominal pengakuannya, melainkan yang paling diakui Allah dalam amalnya. Bukan yang paling lama tersimpan dalam rekening kita, tetapi yang paling lama tersimpan dalam catatan amal jariyah kita.

‎Karena pada akhirnya, yang benar-benar milik kita bukanlah apa yang kita dapatkan, melainkan apa yang kita lepaskan di jalan Allah. ‎ Wallahu ta'ala A'lam

111 views

Terakhir diperbarui

02 April 2026 01:53