Masjid Al-Ikhlas Dalang berdiri sebagai rumah Allah yang mengemban amanah ibadah, dakwah, dan pendidikan umat. Sejak awal, masjid ini diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran beragama yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafus Shalih, generasi terbaik umat Islam. Orientasi ini merupakan ikhtiar keilmuan dan ibadah, bukan identitas kelompok, dan bukan pula sarana untuk membangun sekat di tengah umat.
Upaya memurnikan ajaran Islam merupakan bagian dari tradisi panjang Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang senantiasa menjaga kemurnian tauhid, ketepatan ibadah, dan kelurusan manhaj. Dalam kerangka ini, Masjid Al-Ikhlas Dalang berusaha membiasakan ibadah yang memiliki dasar yang jelas dari Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya, serta bersikap hati-hati terhadap amalan-amalan keagamaan yang lahir semata dari tradisi masyarakat, namun tidak memiliki contoh atau landasan yang kuat dalam nash.
Sikap kehati-hatian ini tidak dimaksudkan untuk menafikan nilai sosial budaya masyarakat, apalagi merendahkan pelakunya. Ia lahir dari prinsip keilmuan yang telah lama ditegaskan para ulama salaf: bahwa ibadah bersifat tauqifi, hanya ditetapkan berdasarkan dalil, sementara adat dan budaya ditempatkan pada ranah muamalah selama tidak bertentangan dengan syariat. Dengan pembedaan inilah umat diajak untuk membedakan antara tradisi yang bersifat sosial dan ibadah yang bernilai taqarrub kepada Allah.
"Konten berita yang informatif dan terpercaya"
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Prof. Dr. Ahmad Zuhro, M.A., Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Ampel Surabaya dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yang dalam kajian-kajiannya menegaskan bahwa ketegangan antara praktik keagamaan normatif dan tradisi kultural sering kali muncul akibat lemahnya literasi sejarah dan fikih umat. Menurut beliau, mempertanyakan dasar suatu amalan dari sisi dalil bukanlah bentuk penolakan terhadap budaya, melainkan bagian dari tanggung jawab ilmiah dalam beragama (Zuhro, Islam Indonesia: Dialektika Tradisi dan Modernitas; serta paparan beliau dalam forum-forum kajian Aswaja NU).
Masjid Al-Ikhlas Dalang memandang bahwa tradisi masyarakat yang bernilai silaturahmi, kepedulian sosial, dan kemaslahatan dapat terus dijaga. Namun, ketika suatu tradisi dihadirkan sebagai ibadah khusus, disertai tata cara tertentu, waktu tertentu, atau klaim pahala tertentu, maka diperlukan kehati-hatian dan rujukan ilmiah. Sikap ini bukan bentuk pengingkaran, melainkan usaha menjaga kemurnian ibadah agar tetap sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam.
Dalam menyikapi perbedaan ini, Masjid Al-Ikhlas Dalang berkomitmen untuk mengedepankan adab, dialog, dan pendekatan yang bijak. Dakwah tidak dilakukan dengan vonis, tetapi dengan penjelasan. Tidak dengan penghakiman, tetapi dengan pengajaran. Pemurnian ajaran dipahami sebagai proses ishlah yang lembut dan bertahap, bukan konfrontasi yang melukai persaudaraan.
"Konten berita yang informatif dan terpercaya"
Sebagaimana ditegaskan Prof. Dr. Ahmad Zuhro, wajah Islam yang sehat adalah Islam yang berakar pada sumber aslinya, dikelola dengan ilmu, dan disampaikan dengan hikmah, serta mampu membedakan antara ajaran pokok agama dan ekspresi budaya masyarakat. Dalam kerangka inilah Masjid Al-Ikhlas Dalang berupaya menjadi ruang ibadah yang menenteramkan, pusat ilmu yang mencerahkan, dan simpul persatuan umat.
Semoga perbedaan praktik di tengah masyarakat semakin disikapi dengan ilmu dan akhlak, bukan dengan prasangka. Dan semoga umat Islam terus diberi taufik untuk meneladani Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam dan Salafus Shalih, sembari merawat persaudaraan dan persatuan.