Masjid adalah rumah Allah Ta'ala. Tempat yg mulia. Tempat orang datang untuk sujud, menangis, memohon ampun, dan mencari ketenangan. Ketika anak-anak dibiarkan berlarian, berteriak, dan mengganggu jamaah, yg rusak bukan hanya kekhusyukan, tapi juga harga diri orang tuanya.
Dan yg paling menyedihkan adalah ketika sebagian orang dengan ringan berkata: “Namanya juga anak-anak, pasti main.” Kalimat ini terdengar manis, tapi sebenarnya justru menunjukkan kelalaian orang tua.
1. Dalih “Namanya Juga Anak-Anak” Adalah Alasan yg Lemah
"Konten berita yang informatif dan terpercaya"
Iya, anak-anak memang fitrahnya aktif. Tapi di mana pun ada adab, ada aturan tempat.
“Namanya juga anak-anak” → maknanya justru: mereka butuh bimbingan, bukan dilepas liar.
“Namanya juga anak-anak” → artinya mereka belum tahu adab, dan orang tualah yg harus mengajarkannya.
"Konten berita yang informatif dan terpercaya"
“Namanya juga anak-anak” → bukan alasan untuk mengubah masjid menjadi taman bermain.
Jika kita pakai alasan ini, berarti kita mengakui bahwa kita sendiri tidak berfungsi sebagai orang tua.
Karena tugas orang tua itu bukan hanya memberi makan, tapi mengarahkan, menuntun, memberikan pendidikan adab.
"Konten berita yang informatif dan terpercaya"
2. Jangan Jadikan Masjid Korban Kelalaian Orang Tua
Banyak jamaah datang ke masjid membawa beban hidup, mencari ketenangan, fokus, dan ibadah yg khusyuk. Tetapi beberapa orang tua justru datang membawa kegaduhan karena membiarkan anak:
berlari-lari keliling masjid, memukul-mukul lantai, berteriak, bertengkar, bahkan menginjak-injak jamaah yg sedang rukuk dan sujud.
"Konten berita yang informatif dan terpercaya"
Yang seperti ini bukan sekadar mengganggu, itu merusak adab rumah Allah.
Dan maaf, orang tua yang cuek melihat anaknya mengganggu jamaah, tapi tetap santai seolah bukan urusannya, itu bukan sikap bijak, itu kelalaian.
3. Anak Tidak Salah, Yg Lalai Orang Tuanya
"Konten berita yang informatif dan terpercaya"
Anak tidak paham adab. Anak tidak tahu batasan. Anak belum bisa membedakan mana tempat ibadah, mana tempat main. Yg harus mengajari adalah orang tuanya.
Masalahnya: banyak anak bukan nakal; mereka hanya “tidak ada yang menuntun”.
Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam mengajarkan kelembutan pada anak, tapi beliau juga mengajarkan adab di masjid. Tidak pernah sekalipun Nabi membiarkan masjid berubah jadi arena bermain.
"Konten berita yang informatif dan terpercaya"
4. Membawa Anak ke Masjid Itu Baik, Tapi Mengabaikan Adab Itu Kesalahan
Tidak ada yg melarang membawa anak ke masjid. Yg dilarang adalah membawa anak tanpa kontrol.
Orang tua seharusnya: menegur dengan tegas, mendampingi, mendudukkan anak di sampingnya, membawa keluar jika mulai mengganggu dan memberikan arahan sebelum masuk masjid.
"Konten berita yang informatif dan terpercaya"
Kalau tidak sanggup menjaga anak, maka bersikap jujur lebih baik: lebih baik tidak membawa anak dulu sampai mereka bisa diarahkan. Karena tanggung jawab kita bukan hanya kepada anak, tetapi juga kepada jamaah lain.
5. Penutup, Tegas untuk Kebaikan
Mari berhenti berlindung di balik kalimat “namanya juga anak-anak”. Kalimat itu tidak membenarkan kelalaian. Yang benar adalah: “Namanya juga orang tua, tugas kita membimbing, bukan melepas.”
"Konten berita yang informatif dan terpercaya"
Semoga Allah menjaga anak-anak kita dan menjadikan mereka generasi yg menghormati masjid serta membawa ketenangan, bukan kegaduhan. Aamiin.